Kamis, 31 Maret 2011

Laporan Praktikum Mikrobiologi Farmasi


Praktikum  1

A.    Judul
Sterilisasi Dengan Pembakaran
B.     Tujuan
Mengetahui cara sterilisasi berbagai alat dengan pembakaran
C.    Dasar teori   
Beberapa ratus tahun yang lalu, bangsa arab telah mengenal bahwa membakar luka dengan logam yang membara dapat mecegah infeksi, walaupun penderita akan menderita luka parut seumur hidupnya. Pada tahun 1537 seorang ahli bedah prancis Ambroise Pare mengobati luka tebak dengan pembalut yang dibasahi dengan kuning telur,terpenting dan bahan yang lain. Terpenting berfungsi sebagai  semacam bahan pembakar kimia, dan kuning telur akan mensuplai enzim lizosim yang bersifat anti bakteri. Konsep antisepsis kemudian diterapkan oleh Ignatz Semmelweis (1816-1865) dan Joseph Lister (1827-1912)
Semmelweis melihat bahwa kejadian demam puerperalis dalam bangsal obstetri yg dikelola oleh dokter lebih tinggi dari pada yang dikelola oleh bidan. Hal ini terjadi karena para dokter kurang memperhatikan mencuci tangan. Ia menganjurkan untuk mempergunakan Chlorinated lime carbol untuk mencegah infeksi akibat pembedahan.
Pada abad ke 18 orang-orang mensterilkan medium cukup dengan cara ini matilah semua mikroba. Cara ini dipakai oleh Spallanzani untuk membuktikan tidak mungkinnya abiogenesis.
Bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam bidang mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau yang merusak media atau mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik fisika,kimia,dan mekanik, yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme disebut dengan sterilisasi.
Penyelidikan spesies mikroba selalu didasrkan atas sifat biakkan murni spesies tersebut. Biakkan murni (Pureculture) adalah biakkan yang hanya trdiri dari 1 spesies mikroba atau hasil perbanyakkan dari 1 sel mikrobia. Oleh karena itu, utnuk dapat memisahkan mirobia yang satu dengan mikrobia yang lainnya atau untuk memelihara suatu mikrobia secara biakkan murni, perlu digunakan medium dan peralatan yang steril.
Praktek sterilisasi medium dan alat-alat secara umum dapat dilakukan secra fisik (misalnya antiseptik,pengeringan,liofilisasi,radiasi, secara kimia (misalnya antiseptik, desinfektan), secara biologis (dengan antibiotika). Sterilisasi dengan antibiotika tidak umum digunakan tetapi lebih banyak digunakan untuk tujuan khemoterapi (pengobatan).
Pemilihan cara sterilisasi yang akan dipakai tergantung dari beberapa hal ; misalnya macam bahan dan alat yang disterilkan, ketahanan terhadap panas, dan bentuk bahan yang disterilkan (padat,cair atau berbentuk gas).
               Sterilisasi panas
      Mikroorganisme dapat tumbuh pada berbagai temperatur, tetapi pertumbuhannnya dapat dihambat atau dihentikan bila suhu tumbuhnya diubah.
a.       Cara kerja panas dalam membunuh mikroba
Panas basah dapat membunuh kuman karena mendenaturasi protein, terutama enzim-enzim dan membran sel. Daya bunuh panas basah ini juga mempengaruhi perubahan fisik dari lemak sel.
b.      Faktor- faktor yang mempengaruhi ketahanan mikroba  terhadap panas
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketahanan mikroba terhadap panas, antara lain :


1.      Lingkungan mikroba yang sedang dihancurkan
2.      Materi yang disterilkan
Penggunaan panas akan berbeda untuk bahan atau materi yang berbeda. Misalnya, bahan dalam bentuk padat akan berbeda penanganannya dengan bahan bentuk cair.
3.      Tipe organisme yang akan disterilkan
Sterilisasi akan menghadapi kesulitan karena beberapa sebab. Sejumlah faktor sebagai pendukung ketahanan spora terhadap panas yakni kadar air yang rendah dan pembungkus spora yang tebal.
4.      Inaktivasi virus karena panas
Virus menunjukkan kerentanan yang lebih rendah terhadap panas. Tidak satupun virus yang meiliki ketahanan terhadap panas dibandingkan spora bakteri.

D.    Cloud Callout: Jarum oseAlat dan Bahan










Cloud Callout: Lampu bunsen

Rounded Rectangular Callout:




Cloud Callout: Korek api



Rounded Rectangular Callout:

 















Rectangular Callout: Menyalakan lampu Bunsen dan mengatur nyala apinya secara maksimal.E.  Metode Kerja








Right Arrow Callout: Untuk sterilisasi jarum ose. Mengambil jarum ose kemudian melakukan pembakaran dengan api Bunsen mulai dari bagian pangkal kawat ose secara perlahan menuju ke ujung kawat jarum ose. Pembakaran jarum ose dilakukan sampai kawatnya merah membara. Jarum ose yang dibakar dibiarkan dingin, selanjutnya siap digunakan untuk mengambil/ menginokulasi mikrobia.
 








            2.


 












F.   Hasil Pengamatan
Alat yang digunakan telah disterilkan terlebih dahulu. Pada saat penggunaan alat ini sudah dalam keadaan steril.



  1. Pembahasan
Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum sterilisasi dengan pembakaran yaitu dengan menyiapkan alat dan bahan yang digunakan. pada sterilisasi pembakaran kita menyalakan lampu bunsen dengan kork api, kemudian jarum ose disterilkan dengan cara melewatkan berulang kali diatas lampu bunsen. Setelah itu diangin-anginkan sejenak sebeum digunakan.
Tujuan sterilisasi dengan pembakaran ini adalah untuk membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme yang terdapat pada jarum ose sehingga pada pemakaian tetap steril atau bebas dari mikriorganisme.
            (  Mikrobiologi umum Kesehatan Masyarakat:hal 112-114 )

  1. Kesimpulan
Jadi sebelum menggunakan jarum ose sebaiknya disterilkan terlebih dahulu dengan cara sterilisasi pembakaran, agar mikroba pada jarum ose mati.

  1. Jawaban Tugas
    1. Mengapa semua alat diatas harus dilewatkan pada api bunsen?
Jawaban : Karena mikroba tidak mempunyai ketahanan terhadap panas, jadi untuk mensterilkan atau membunuh mikroba dengan cara dipanaskan yaitu dilewatkan pada api bunsen.
( Mikrobiologi umum Kesehatan Masyarakat:113 )







Praktikum  2

A. Judul 
Sterilisasi Dengan Panas Kering ( Oven )
B.  Tujuan
Mengetahui berbagai cara sterilisasi berbagai alat dengan       panas kering
  1. Dasar teori
Strelisisasi panas kering
    1. Prinsip Kerja
Prinsip membunuh kuman dengan panas kering adalah menyebabkan denaturasi protein dan efek toksik akibat kenaikan kadar elektrolit. Cara kerja dari panas tersebut adalah bahwa panas akan membunuh mikroba karena mendenaturasi protein, terutama enzim-enzim dan membran sel. Panas kering membunuh bakteri karena oksida komponen-komponen sel. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan pembakaran dan oksidasi. Cara ini dapat dipakai bila selama sterilisasi dengan bahan kimia tidak akan berubah akibat temperatur tinggi atau tekanan tinggi. Cara membunuh mikroba ini dengan memakai panas (thermal kill) daya bunuh panas kering tidak sebaik panas basah. Bila biakan mikroba dimasukkan dalam air mendidih akan cepat mati dibandingkan dengan dipanasi secara kering.
    1.  Teknik sterilisasi dengan panas kering
1.            Pembakaran Langsung (Incenerisasi)
Teknik pembakaran langsung merupakan teknik sterilisasi yang tercepat dan 100 % efektif. Kelemahan teknik ini terbatas penggunaannya. Caranya adalah dengan membakar peralatan sampai pijar. Proses ini di laboratorium untuk mensterilkan alat penanam bakteri (ose, tugal), mulut tabung reaksi sewaktu membuat kultur, dan lain-lain. Prosedur ini sangat efektif membunuh bentuk spora maupun toksin yang dihasilkan oleh bakteri.
Peralatan laboratorium yang dapat disterilkan dengan cara pembakaran langsung hanya alat-alat yang terbuat dari logam dan kaca. Pembakaran langsung dapat jugah dilakuakan terhadap bangakai binatang percobaan yang telah mati. Teknik dapat digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan terbuat dari karet, plastik, kertas, dan media mikrobiologis.
2.            Pemanasan dengan oven atau sterilisasi dengan udara panas.
Sterilisasi dengan udara panas dianjurkan apabila penggunaan uap bertekanan tidak dikehendaki atau biala terjadi kontak antara uap bertekanan dengan beenda yang akan disterilkan. Sterilisasi dengan cara ini memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan cara pembakaran secara langsung, karena energi panas sulit menetrasi bahan yang akan disterilkan. Misalnya, waktu untuk membasmi spora dibutuhkan suhu 160oc selama 2 jam, karena suhu yang lebih tinggi dari 160oc akan menghancurkan alat-alat dari kertas.
Sterilisasi dengan udara panas berlaku untuk peralatan laboratorium seperti cawan petri, pipet, siring, instrumen, jarum, alat suntik; juga bahan-bahan seperti gliserin, parafin petrolatum, perban petrolatum, serbuk sulfonamida, serbuk talk, oksida seng, dan materi-materi lain yang berbentuk powder dan minyak. Alat-alat yang disterilkan ditempatkan dalam oven dimana suhunya dapat mencapai 160o-180oC. Caranya adalah dengan memanaskan udara dalam oven tersebut dengan gas atau listrik. Beberapa bahan yang dapat disterilkan dengan udara panas merupakan zat organik yang tidak mudah bercampur dengan air. Efek panas kering sama dengan dengan efek pembakaran panas yang timbul akan mengoksidasi rotein mikroba. Keuntungan tehknik ini dibandingkan tehknik uap panas adalah tidak uapa panas yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan.
                                    (Mikrobiologi umum kesehatan masyarakat ; 114-115)

  1. Cloud Callout: Tabung reaksiAlat dan Bahan


















Rectangular Callout:



Rectangular Callout:



Cloud Callout: Cawan petri





Rounded Rectangular Callout:

Rounded Rectangular Callout:  ,Cloud Callout: Pipet ukur




Cloud Callout: Kertas Bungkus,Cloud Callout: Kapas



Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Benang

 























E.     Metode Kerja
1.      Menangkupkan cawan petri bagian bawah dan tutupnya, kemudian dibungkus dengan kertas dan disusun cawan petri ( 5-10 ) buah dan diikat dengan benang.
2.      Menganbil tabung reaksi yang masing-masing ditutup dengan kapas , beberapa tabung ( 5-10 tabung ) diikat jadi satu dan dibungkus kertas kemudian diikat kembali.
3.      Pipet ukur ujung atas di beri sedikit sumbat kapas ( agak longgar ) kemudian dibungkus dengan kertas dan diikat.
4.      Semua alat tersebut masukkan ke dalam oven.
5.      Menyalakan oven pada suhu 175 ˚C. Dilakukan selama 24 jam.
6.      Setelah selesai pemanasan, semua peralatan didinginkan dan pada hari berikutnya dan pada hari berikutnya siap dipakai.

F.     Hasil Pengamatan
Alat-alat yang telah digunakan telah disterilkan terlebih dahulu Sehingga alat sudah siap untuk dipakai.

  1. Pembahasan
Langkah awal yang dilakukan dalam melakukan sterilisasi dengan
panas kering dengan menggunakan oven adalah menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan.
            Untuk Cawan petri ditangkupkan bagian bawah dan tutupnya kemudian dibungkus. Tujuannya agar bagian wadah dan tutupnya tidak saling berpisah, selain itu dengan di bungkus satu persatu akan lebih mudah dalam pengambilan.
Berbeda dengan tabung reaksi, semua tabung reaksi yang akan digunakan ditutup dengan kapas, kemudian beberapa tabung (5-10) diikat jadi satu dan dibungkus kertas kemudian diikat kembali.
Untuk pipet ukur ujung atasnya diberi sedikit sumbat kapas (agak longgar) kemudian dibungkus dengan kertas dan diikat.
Setelah semua alat-alat yg siap disterilkan dengan sterilisasi panas kering, oven dinyalakan pada suhu 175 derajat celcius. Proses ini dilakukan selama 2 jam. Suhu yang digunakan untuk sterilisasi ini adalah sekitar 160-180 derajat celcius dan dilakukan selama 2 jam.
Sterilisasi dengan  udara panas berlaku untuk peralatan-peralatan laboratorium. Untuk bahan-bahan yang dapat disterilkan dengan sterilisasi ini harus merupakan zat organik yang tidak mudah bercampur dengan air.
Efek panas kering sama dengan efek pembakaran. Panas yang timbul akan mengoksidasi protein mikroba. Keuntungan teknik ini dibandingkan dengan teknik uap panas adalah tidak ada uap panas yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan.
            (Mikrobiologi umum kesehatan masyarakat ; 115)
Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas.
Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven :
Ø  170°C (340 F) sampai 1 jam
Ø  160°C (320 F) sampai 2 jam
Ø  150°C (300 F) sampai 2,5 jam
Ø  140°C (285 F) sampai 3 jam

  1. Kesimpulan
Jadi untuk sterilisasi dengan panas kering ini memiliki tujuan yang
sama dengan sterilisasi dengan pembakaran, yaitu untuk membunuh semua mikroba yang melekat pada alat maupun bahan yang akan digunakan ketika praktikum sehingga semunya menjadi steril, dan juga tidak semua alat dan bahan dapat disterilkan dengan pembakaran sehingga harus menggunakan metode ini.

  1. Jawaban Tugas
1.      Sebutkan alat-alat yang bisa disterilisasi dengan panas kering ?
- Alat- alat yang bisa disterilkan dengan panas kering :
a)      Sterilisasi alat logam, bahan yang terbuat dari porselen, digunakan pada metode pemijaran langsung.. Suhu yang digunakan 500-600oC dalam waktu beberapa detik, untuk alat logam sampai berpijar.
b)      sterilisasi alat bedah seperti gunting bedah sebagai lubrikan menjaga ketajaman alat, bahan kimia stabil dalam ampul. Ini digunakan pada metode minyak dan penangas lain. Bahan atau alat dicelupkan dalam penangas dicelupkan dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 160oC. Larutan natrium atau amonium klorida jenuh dapat digunakan pula sebagai pengganti minyak mineral.

2.      Apakah media agar bisa di sterilisasi dengan panas kering ?
- Tidak, media agar disterilisasi dengan panas basah.

















Praktikum  3

A.  Judul
Sterilisasi dengan panas basah bertekanan tinggi (autoklaf)
B.  Tujuan
Mengetahui berbagai cara sterilisasi bahan/media pertumbuhan mikroorganisme.
  1. Dasar teori
Sterlisasi Panas Basah
    1. Otoklaf
Prinsip kerja otoklaf adalah sama dengan ”pressure cooker”.
Ketika molekul air menjadi panas , maka daya penetrasinya menjadi bertambah. Alat ini serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap air. Otoklaf memiliki suatu ruang yanng mampu menahan tekanan diatas 1 atm. Dalam otoklaf yang mensterilkannya adalah panas basah, bukan pada tekanannya. Oleh karena itu, setelah didalam tangki mendidih dan mulai berbentuk uap air, maka uap air ini akan mengalir ke ruang pensteril guna mendesak keluar semua udara di dalamnya.
            Panas basah dari otoklaf berfungsi untuk mensterilkan, bukan pada tekanannya. Setelah air dalam tangki mendidih dan mulai berbentuk uap air, maka uap air ini akan dialirkan didalam ruang pensteril guna mendesak keluar semua udara didalamnya. Bila masih ada udara tersisa maka udara ini akan menambah tekanan didalam ruang pensteril yang akan mengganggu naiknya suhu didalam ruang tersebut.
            Otoklaf sebagai alat pensteril memiliki banyak kelebihan dibandingkan alat yang lainnya. Kelebihan tersebut antara lain pemanasan berlangsung cepat, mempunyai daya tembus, dan menghasilkan kelembaban tinggi. Semua proses tersebut akan mempermudah koagulasi protein sel-sel mikroorganisme. Sehingga kematian mikroorganisme adalah karena suhu bukan karena upaya atau tekanan uapnya.
            Otoklaf merupakan alat yang esensial dalam setiap laboratorium mikrobiologi, ruang sterilisasi di rumah-rumah sakit, dan tempat-tempat yang meproduksi produk-produk steril. Waktu sterilisasi tergantung pada sifat bahan yang disterilkan, tipe wadah, dan volume bahan.
            Beberapa zat tertentu mempunyai ciri-ciri yang membuat tidak praktis untuk disterilkan dengan otoklaf. Bahan-bahan dengan air, misalnya minyak dan lemak tidak tembus oleh uap air sehingga mikroorganisme yang terkandunng didalamnya akan tetap bertahan hidup. Selanjutnya bahan menjadi berubah atau rusak bila terkena suhu yang tinggi. Oleh karena itu, bahan-bahan tersebut perlu disterilkan dengan cara-cara sterilisasi yang lain.
            Otoklaf dapat digunakan untuk mensterilkan beberapa bahan dan alat sebagai berikut. Bahan dan alat tersebut antara lain media mikrobiologik, alat intra vena, sarung tangan karet, larutan, alat penyuntik, bilah penekan lidah, alat transfuse, pengawetan makanan dalam kaleng dan lain-lain. Berikut ini waktu yanng berbeda-beda dalam tekanan yang sama, seperti pada tabel berikut.











Tabel waktu yang diperlukan mensterilkan beberapa bahan dengan Otoklaf

Bahan
Waktu yang diperlukan pada suhu 121 derajat celcius/menit
Media bakteriologi
15
Utensil
15
Larutan Garam
15
Alat penekan Lidah
30
Maternity packs
30
Peralatan intravena
30
Diapers
30
Peralatan biasa
15
Scalped
15
Peralatan gelas kosong
15

            Otoklaf merupakan alat sterilisasi yang cukup meyakinkan , walaupun demikian tidak dapat dipakai untuk mensterilkan alat-alat yang terbuat dari plastik, karena bahan ini akan meleleh. Demikian juga bila pengoperasiannya tidak tepat dapat menyebabkan ketidaktepatan dalam sterilisasi. Penggunaan yang tidak tepat biasanya disebabkan :
Ø  Kelalaian mengeluarkan udara (semuanya) sebelum menutup katup buangan.
Ø  Membebani otoklaf berlebihan atau pengemasan yang tidak benar.
    1. Perebusan (Pendidihan air)
Teknik sterilisasi pendidihan dengan air akan dapat
Membunuh mikroorganisme dengan cara menkoagulasikan dan denaturasi protein sel mikroba. Proses koagulasi dan denaturasi protein memerlukan energi yang lebih sedikit daripada proses oksidasi. Oleh karena itu, teknik ini memerlukan suhu yang lebih rendah.
            Sebelum direbus, alat-alat harus bersih dari segala kotoran, sperti feses dan darah. Alat yang harus disterilkan direndam dalam air. Hampir semua bentuk vegetatif sel bakteri akan hancur dalam waktu beberapa detik setelah perebusan. Tetapi hal ini telah berlaku untuk spora jamur, kista protozoa, dan beberapa virus seperti virus hepatitis.
            Efek mematikan air mendidih dapat ditingkatkan dengan penambahan 2 % natrium karbonat atau deterjen. Spora yang tahan terhadap air mendidih selama 10 jam, ternyata dapat dimatikan pada suhu 998 derajat celcius dalam waktu 10-30 menit, bila berada dalam larutan natrium bikarbonat 2 %.
                        (Mikrobiologi umum kesehatan masyarakat ; 116-119)

  1. Alat dan BahanCloud Callout: Autoklaf

















    Rounded Rectangular Callout:


    Cloud Callout: Cawan petri

    Rounded Rectangular Callout:




    Cloud Callout: Inkubator




    Cloud Callout: Erlenmeyer,Cloud Callout: Media PDA (Potato Dextose Agar )



    Rounded Rectangular Callout:




    Rounded Rectangular Callout:



    Cloud Callout: Media NA
(Nutrient Agar)

    Rounded Rectangular Callout:































E.     Metode Kerja
1.      Menutup Erlenmeyer yang berisi PDA atau NA dengan kapas.
2.      Mengisi autoklaf dengan akuades sampai permukaan air dibawah ansang / keranjang autoklaf.
3.      Menyambungkan autoklaf dengan sumber listrik dan nyalakan autoklaf.
4.      Memasukkan Erlenmeyer yang telah berisi PDA atau NA ke dalam angsang / keranjang autoklaf.
5.      Menutup autoklaf dan kencangkan penutupnya dengan kuat.
6.      Mengatur suhu, waktu dan tekanan yan g diperlukan untuk sterilisasi. Sterilisasi umumnya dilakukan pada 120 derajat celcius dan tekanan 15 pounds selama 15 menit.
7.      Setelah sterilisasi berakhir , membuka tutup autoklaf dan mengambil media yang telah diseterilkan dan di tuang pada cawan petri steril, selanjutnya diinkubasi pada inkubator.

F.     Hasil Pengamatan
Alat–alat yang telah di sterilkan dengan panas bertekanan tinggi yang menggunakan alat Autoklaf telah dapat dipakai dalam praktikum mengenai bahan makanan yang akan di uji coba apakah makanan tersebut mengandung mikroba atau tidak. Dan alat ini di gunakan untuk proses sterilisasi air mineral untuk membunuh kuman atau mikroba yang ada dalam air mineral.alat yang telah digunakan telah disterilkan terlebih dahulu sehingga siap untuk dipakai.

G.    Pembahasan
Sama seperti sterilisasi dengan cara pembakaran dan dengan cara
panas kering, langkah awal yaitu menyiapkn alat-alat dan bahan-bahan yang akan disterilisasi panas basah. Kemudian menutup erlenmeyer yang berisi PDA dan NA dengan kapas.
Lalu isi autoklaf dengan akuades sampai permukaan air dibawah ansang/keranjang autoklaf, dan sambungkan autoklaf dengan sumber listrik lalu nyalakan autoklaf tersebut.
Setelah itu masukkan erlenmeyer yang telah berisi PDA dan NA ke dalam ansang/keranjang autoklaf. Autoklaf ditutup dan kencangkan penutupnya dengan kuat, suhu kemudian diatur begitu juga dengan waktu serta tekanan yang diperlukan untuk sterilisasi. Sterilisasi umumnya dilakukan pada 120 derajat celcius dan tekanan 15 pounds selama 15 menit.
Setelah sterilisasi berakhir, tutup autoklaf dibuka dan media yang ada didalamnya dikeluarkan dan dituang pada cawan petri steril, selanjutnya diinkubasi pada inkubator. Tujuan sterilisasi ini yaitu untuk membunuh mikroba yang ada pada media, sehingga keika digunakan untuk perlakuan selanjutnya bebas dari mikroba atau biasa dikatakan steril.
            (Mikrobiologi Umum kesehatan masyarakat ; 117)   


H.    Kesimpulan
Jadi bukan hanya pada alat dan bahan yang harus dosterilkan dari
mikroba, untuk media pun harus steril atau bebas dari mikroba. Agar tidak terjadi kontaminasi antara miroba yang dibiakkan dengan mikroba yang ada pada media.

I.       Jawaban Tugas
1.      Mengapa sterilisasi bahan atau media tumbuh mikroba harus menggunakan panas basah betekanan tinggi ?
-Karena, jenis mikroba yang tumbuh pada media akan mati pada suhu dan tekanan yang tinggi, sehingga jika diberi perlakuan seperti itu semua jenis mikroba yang melekat pada media akan mati. Jadi, media menjadi steril dan tidak terjadi kontaminasi karena zat kontaminan telah mati.

















Praktikum  4

 A. Judul
                              Pembuatan Media         
B.     Tujuan
                       1. Mengetahui cara-cara pemuatan media
                             2. Mengetahui macam dan kegunaan media.
C.    Dasar teori     
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya
Mikroba yang tumbuh pada medium PDA berupa jamur, jamur yang tumbuh terdiri dari dua jenis jamur yang berbeda. Jamur-jamur tersebut menunjukkan sifat-sifat yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat dari warna yang dihasilkan oleh jamur, ukuran koloni, dan bentuk koloni jamur tersebut.   
Biakan murni didapat dari suatu biakan bakteri campuran. Biakan murni tersebut diinokulasikan di dalm medium agar miring. Cara memindahkan bakteri tersebut dengan menggunakan jarum inokulasi yang dioleskan kepermukaan medium agar miring tersebut secara zigzag. Jika berhasil maka dalam tabung yang berisi media tersebut hanya akan terlihat satu jenis bakteri yang tumbuh dan berkembang.
-          Bahan-bahan media pertumbuhan
1.      Bahan dasar
·         air (H2O) sebagai pelarut
·         agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu 45 oC.
·         gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu menguraikannya dibanding agar.
·         Silica gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya juga sebagai pemadat media. Silica gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.
-          Macam-Macam Media Pertumbuhan
1.      Medium berdasarkan sifat fisik
·         Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat..
·         Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata diseluruh media.
·         Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
2.      Medium berdasarkan komposisi
·         Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
·         Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.
·         Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic Extract.
3.      Medium berdasarkan tujuan
·         Media untuk isolasi
Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
·         Media selektif/penghambat
Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.
·         Media diperkaya (enrichment)
Media diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, kuning telur. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar, dll.
·         Media untuk peremajaan kultur
Media umum atau spesifik yang digunakan untuk peremajaan kultur
·         Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik.
Media ini digunakan unutk mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
·         Media untuk karakterisasi bakteri
Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
·         Media diferensial
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni.
Peran utama nutrient adalah sumber energi, bahan pembangun sel dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, factor pertumbuhan dan nitrogen.
          Makhluk hidup menggunakan sumber-sumber nutrient dapat dalam bentuk padat, tetapi ada juga yang hanya dapat menggunakan sumber nutrient dalam bentuk cair (larutan). Bila jasad hidup menggunakan sumber nutrient dalam bentuk padat digolongkan tipe holozoik, sedangkan yang menggunakan nutrient dalam bentuk cairan tergolong tipe holofitik. Namun ada yang hidup holofitik dapat juga menggunakan sumber nutrient dalam bentuk padat, tetapi bahan tersebut dicerna dahulu di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler.
D.    Rounded Rectangular Callout:  Alat dan Bahan













Cloud Callout: Gelas beaker


Rounded Rectangular Callout:


Cloud Callout: Gelas ukur




Rounded Rectangular Callout:


Cloud Callout: Batang pengaduk



 
















































Cloud Callout: Lampu bunsen
Rounded Rectangular Callout:




Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Autoklaf




Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Cawan petri steril


Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Inkubator




Cloud Callout: Erlenmeyer


Rounded Rectangular Callout:




Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Nutrient Agar (NA)




Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Aquadest

 












































E.     Metode kerja
1.      Mengambil media NA secara dan menimbang sebanyak 0,42 gram, melarutkan dalam 15 ml aquadest.
2.      Memanaskan pada kompor listrik sampai mendidih dan mengaduk berlahan-lahan.
3.      Setelah larut sempurna kemudian mengangkat dan menuangkan Erlenmeyer dan menutupnya dengan aluminium  foil.
4.      Mensterilkan dalam autocave dengan suhu 120 derajat celcius dengan tekanan 15 pounds selama 15 menit.
5.      Menuangkan 15 ml medium kedalam cawan petri dan melakukan pengisian sebelum medium dingin dan mengental
6.      Melakukan inkubasi selama 1 x 24 jam.
7.      Media dapat menyimpan media dalam lemari es dan membungkusnya dengan aluminium foil sampai diperlukan.

F.     Hasil pengamatan
Pada percobaan ini kami tidak melakukan pembuatan media karena media telah disiapkan di laboratorium mikrobiologi

G.    Pembahasan
Media NA ditimbang sebanyak 0,345 gram lalu dilarutkan dalam 15 ml aquadest, panaskan pada kompor listirk sampai mendidih dan diaduk secara perlahan-lahan. Setelah larut sempurna kemudian diangkat dan dituangkan pada Erlenmeyer dan ditutup dengan aluminium foil, sterilkan dalam autoclave dengan suh 1200C dengan tekanan 15 pounds selama 15 menit. Menuangkan 15 ml medium ke dalam cawan petri, dan pengisian dilakukan sebelum medium dingin dan mengental. Kemudian lakukan inkubasi 1x24 jam. Media dapat disimpan dalam lemari es dibungkus dengan aluminium foil sampai diperlukan.
Untuk perhitungan media digunakan rumus sbb :

Perhitungan Gram Bahan
            Gram NA                    =          Jmlh cawan × tetapan/1000× 15
1          Cawan  × 23/1000 ×15
0,345 + 15 ml aquadest
15,345 ml
            Gram  PDA                 =          1 Cawan × 39/1000 × 15
                                                            0,585 + 15 ml aquadest
                                                            15,585 ml
            Gram LB                     =          1 Cawan × 13/1000×9 (tabung)
                                                            0,117  + 15 ml aquadest
                                                            15,117 ml

H.    Kesimpulan
Untuk media NA yang akan digunakan pada praktikum selanjutnya untuk pembiakkan bakteri adalah 15,345 ml.
Untuk media PDA yang akan digunakan ada praktikum selanjutnya untuk pembiakkan jamur adalah 15,585 ml
Untuk media LB yang akan digunakan pada praktikum selanjutnya adalah 15,117 ml




I.       Jawaban pertanyaan
1.      Diagram penggolongan medium biakan mikroba


 












2.      Beberapa contoh susunan media yaitu media semi sintesis yaitu media yang tersusun dari campuran bahan-bahan alami dan bahan-bahan sintesis misalnya: Kaldu nutrisi berfungsi Untuk pertumbuhan bakteri.
            Pepton 10,0 grm, Ekstrak daging 10,0, NaCl 5,0 ,Aquades   1,000 ml
3.      Berapa gram NA dan mili liter aquades yang diperlukan untuk 10 cawan Petri? (NA 20 g/1000ml)
Jawab:
Dik. Tetapan NA = 20 g/1000 ml
Isi cawan Petri = 15 ml
Jumlah cawan = 10 cawan
Dit. gr NA?

Penyelesaian
Gr NA = jumlah cawan x isi cawan x tetapan NA
= 10 x 15 x 20/1000
= 3 g NA dalam 120 ml aquades.

Praktikum  5

A.  Judul
      Uji kuantitatif bakteri pada bahan makanan dengan metode pour plate
B.     Tujuan
Untuk mengetahui jumlah bakteri pada bahan makanan dengan metode pour plate
C.    Dasar teori
Teknik pour plate adalah teknik penanaman dengan cara mencampurkan sampel yang mengandung sel mikroba dengan media pertumbuhan (agar) sehingga sel-sel tersebut tersebar merata dan diam baik di permukaan agar atau di dalam agar. Konsekuensinya adalah tidak semua jenis mikroorganisme dapat tumbuh di dalam agar (bersifat mikroaerofilik).
Teknik penanaman ini lebih tepat untuk jenis sampel yang tidak dapat untuk difiltrasi dan sulit sulit untuk diratakan di permukaan agar seperti jus buah. Lalu jika timbul pertanyaan bagaimana cara yang tepat untuk menganalisa jenis sampel jus jeruk atau jus apel hasil pasteurisasi yang diperkirakan memiliki densitas sel <10 style="">pour plate. Hal ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.
Penggunaan teknik penanaman ini sebaiknya dari jenis sampel yang memiliki densitas sel yang tinggi dan dengan pengenceran tertentu yang sesuai. Lebih baik tidak menganalisa jenis sampel seperti air mineral dalam kemasan dengan teknik ini karena dikhawatirkan jika terdapat pertumbuhan maka pertumbuhan tersebut kemungkinan besar adalah kontaminan. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya jumlah sel per satuan volum dalam air mineral tersebut, dan jika dari sekian ratus ml sampel hanya diambil 0,1 ml-nya maka secara nalar peluang untuk terambil sangat kecil.
Teknik Pour memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen.

D.    Alat dan bahan









Rounded Rectangular Callout:



Rounded Rectangular Callout:


 



















Rounded Rectangular Callout:




Rounded Rectangular Callout:





Rounded Rectangular Callout:



Rounded Rectangular Callout:


 











                                                                                         

















Rounded Rectangular Callout:



Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Tabung  reaksi




Cloud Callout: NaCl fisiologis




Cloud Callout: Aquadest steril


Rounded Rectangular Callout:


 


































Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Ikan kaleng

 










E.     Metode kerja






Down Arrow Callout: Mengambil bahan makanan yang akan diuji secukupnya, kemudian memasukkan ke dalam mortar steril dan di haluskan, lalu diambil 1 gram kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya diisi larutan NaCl sebanyak 10 ml, kemudian di vortex sampai homogen.





Foto011,Foto013,Foto016,Foto015,Foto017
 






IMG0685A























Diambil 1 ml               9 ml NaCl                    0,5 ml ke dalam cawan


Folded Corner: Kemudian memasukkan media NA yang bersuhu ± 45 derajat celcius kemudian menggerakkan perlahan-lahan agar suspensi tersebut tercampur rata ke dalam media. Lalu di inkubasi ke dalam inkubator dengan suhu 37 derajat celcius selama 1 x 24 jam dengan posisi cawan petri dalam keadaan terbalik.
 












Foto019
Foto023



 






Menuang Media pd sampel                 Memasukkan dlm inkubator











Bevel: Menghitung jumlah koloni yang terdapat di cawan Petri kemudian menghitung jumlah sel bakteri pada bahan makanan dengan menggunakan rumus.



Foto2589
Foto2590

 












F.     Hasil pengamatan







Foto2590
Foto2589
Foto2588

 






            1:10                             1:100                           1:1000
      (356 koloni)                (87 koloni)                        (59 koloni)
G.    Pembahasan
Pada percobaan pour plate ini, sampel yang digunakan adalah ikan
kaleng yang sudah dihaluskan dan hanya di ambil sebanyak 1 gram, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya di masukkan NaCl fisiologis sebanyak 10 ml. Banyaknya tabung yang digunakan untuk percobaan ini adalah 4 tabung reaksi, 1 tabung untuk meletakkan sampel dan 3 tabung lainnya untuk pengenceran.
            Dari suspensi yang dihasilkan atau yang sudah di vortex dan tercampur diambil 1 ml dan dipindahkan ke tabung pengenceran pertama yang berisi NaCl sebanyak 9 ml untuk di encerkan. Kemudian di ambil lagi 0,5 ml dan di masukkan ke dalam cawan petri yang telah disterilkan. Untuk mengambil dan memindahkan suspensi dari 1 tabung ke tabung yang lain atau ke cawan petri digunakan dispo yang berbeda-beda, hal ini bertujuan agar tidak terjadi kontaminasi bakteri dari 1 tabung ke tabung yang lainnya atau ke cawan petri yang selanjutnya bakteri yang ada di dalamnya akan kita biakkan.
            Hal yang sama dilakukan hingga pengenceran yang ketiga atau pada tabung yang ke empat. Setelah semuanya berhasil diencerkan dan telah dimasukkan ke dalam cawan petri dimasukkan media NA (Nutrient Agar) yang bersuhu ± 45 derajat celcius kemudian digerakkan perlahan-lahan membentuk angka delapan, tujuannya agar suspensi tersebut tercampur rata ke dalam media.
            Dan yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah sampel dimasukkan terlebih dahulu kemudian medianya. Langkah selanjutnya adalah menginkubasi dalam inkubator dengan suhu 37 derajat celcius selama 1 x 24 jam dengan posisi cawan petri dalam keadaan terbalik. Tujuan inkubasi adalah untuk membiakkan bakteri, sedangkan diletakkan dalam keadaan terbalik agar titik-titik air hasil penguapan tidak jatuh pada media yang telah tercampur merata dengan suspensi.
            Setelah melewati 1 x 24 jam masa inkubasi, cawan petri bisa dikeluarkan. Maka bisa diamati perbedaan yang terlihat dari sebelum melewati masa inkubasi. Pada permukaan media telah muncul bintik-bintik kecil atau koloni-koloni mikroba. Kemudian untuk menghitungnya kita menggunakan alat bantu spidol sehingga tidak akan terlewati ketika menghitung.
            Pada hasil perhitungan untuk cawan petri pertama didapat sebanyak 356 koloni bakteri, untuk cawan petri ke dua didapat sebanyak 87 koloni bakteri, dan pada cawan terakhir didapat sebanyak 59 koloni bakteri. Untuk perhitungan berdasarkan Standar Plate Count (SPC) data yang diambil adalah data yang lebih dari 30 dan kurang dari 300, sehingga hanya diambil koloni bakteri pada cawan kedua dan ketiga.
            Rumus yang digunakan selanjutnya adalah :
Koloni per ml/per gr = jumlah koloni per cawan   x                1             
                                                                                    Faktor pengenceran
Diketahui        :
- Jumlah Koloni pada cawan kedua 87 koloni
Koloni per ml  = 87 x     1          x 2
                                    1 / 100
                        = 17.400 koloni/ml
                        = 1,7 x 104 koloni/ml

- Jumlah Koloni pada cawan ketiga 59 koloni           
Koloni per ml  = 59 x     1          x 2
                                    1 / 100
                        = 11.800 koloni/ml
                        = 1,18 x 104 koloni/ml

Setelah di dapat jumlah koloni percawan digunakan lagi aturan SPC, yaitu dengan membandingkan hasil pengenceran tertinggi dan terendah :

Pengenceran tertinggi =         17400              =          1,474
Pengenceran terendah             11800

Hasil yang didapat kurang dari 2, maka yang diambil atau yang dilaporkan adalah rata-rata dari kedua data di atas :

Jumlah koloni pada cawan kedua       = 17.400+11.800         = 14.600 CFU
Jumlah koloni pada cawan pertama                2
                                                            = 1,46 x 104 CFU


H.    Kesimpulan
Jadi untuk mengetahui jumlah bakteri pada bahan makanan, dalam
hal ini adalah ikan kaleng maka digunakan metode pour plate. Dan dari hasil praktikum yang kami lakukan di dapat jumlah koloni sebanyak 14.600 koloni bakteri pada ikan kaleng. Hasil ini di dapat berdasarkan perhitungan dan rumus tertentu.

I.       Jawaban  pertanyaan
1.      Kelebihan dank kekurangan metode Pour Plate
a.      Kelebihan : hanya sel yang masih hidup dihitung, beberapajenis miroba dapat dihitung sekaligus, serta dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba
b.       Kekurangan : Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin akan membentuk satu koloni,Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda, Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang jelas, dan Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relative lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung
2.Aturan-aturan Standard dalam Standar plate Ciunt (SPC)
a.      <0,1: kemungkinan kesalahannya adalah sel tidak tersebar merata (tidak tersapu oleh batang L) karena volume pelarut kurang walaupun dengan pengenceran yang tepat. Semakin kecil volume berarti semakin sedikit yang terambil oleh pipet, yang menunjukkan bahwa kesalahan teknis pemipetan semakin tinggi dan kesempatan sel yang tersebar secara acak dalam pelarut untuk terambil oleh pipet semakin tidak seragam. Selain itu juga adanya sedikit volume yang masih menempel dan tersisa (tidak ikut tertekan keluar) sangat besar pengaruhnya pada hasil yang diperoleh
b.       0,1 ml : volume yang tepat untuk disebarkan diatas permukaan agar dan cukup mudah mengering sehingga tidak menggenangi permukaan agar. Secara peluang, sel bakteri dapat terambil dengan acak dan seragam dari tabung.
c.        >0,1 ml : volume yang lebih besar otomatis air di permukaan agar lebih banyak sehingga sulit mengering dan dapat menyebabkan pertumbuhannya memenuhi seluruh permukaan agar karena sel dapat disebarkan oleh air (inilah kekurangan dari metode spread plate).




















Praktikum  6

A.  Judul
Perhitungan bakteri coliform pada Air dengan metode Most Probable Number (MPN)
B.  Tujuan
Untuk mengetahui jumlah bakteri coliform pada air dengan menggunakan uji penduga metode Most Probable Number (MPN)
C. Dasar teori    
Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri (metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada sampel) seperti yang dilakukan pada percobaan ini. Beratus-ratus spesies dapat menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit.
Koliform merupakan kelompok bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya polusi kotoran dan kondisi sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan dan produk-produk susu. Bakteri koliform dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu koliform fekal (Escherchia coli) dan koliform non fekal (Enterobacter aerogenes). E. coli adalah bakteri koliform yang ada pada kotoran manusia, maka E. coli sering disebut sebagai koliform fekal. Pengukuran kuantitatif populasi mikroorganisme sangat diperlukan untuk berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk menghitung jumlah mikroorganisme, akan tetapi secara mendasar, ada dua cara yaitu secara langsung dan secara tidak langsung.
Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan membuat preparat dari austu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel count). Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total plate count / TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri).
Jumlah masing-masing cawan diamati setelah inkubasi, cawan yang dipilih untuk penghitungan koloni ialah yang mengandung antara 30 sampai 300 koloni, karena jumlah mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut maka harus dilakukan sederetan pengenceran dan pencawanan.
Jumlah organisme yang terdapat dalam sampel asal ditentukan dengan mengalikan jumlah koloni yang terbentuk dengan faktor pengenceran pada cawan yang bersangkutan. Metode perhitungan MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung jumlah bakteri yang terdapat di dalam tanah seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Kedua jenis bakteri ini memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuannya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah amonium menjadi nitrat .
D.    Rounded Rectangular Callout:  Cloud Callout: Tabung ReaksiRounded Rectangular Callout:  Alat dan bahan




















Rounded Rectangular Callout:



Rounded Rectangular Callout:
Rounded Rectangular Callout:


Cloud Callout: Kaldu Nutrisi Agar





Rounded Rectangle:


Rounded Rectangular Callout:



Cloud Callout: Susu


 















                                                                                                                   








Cloud Callout: Kapas


LAKTOSA BROTH



Cloud Callout: Laktosa Broth

 











E.     Metode Kerja







Plaque: Membuat pengenceran dari sample yang akan diperiksa mulai dari pengenceran -1, -2, -3, -4, -5, -6. Menyiapkan 12 Tabung reaksi, 3 tabung berisi 9 ml aquadest, 9 tabung berisi 9 ml Laktosa Broth (LB), namun tabung sebelumnya diisi dengan tabung durham sebelum di masukkan larutan.



Foto001
Foto002
 











            3 tabung berisi 9 ml aquades                           9 tabung berisi 9 ml LB






Flowchart: Document: Memasukkan 1 ml sample (susu) kedalam tabung pertama yang berisi aquadest, kemudian di vortex atau dikocok secara manual hingga konsentrasi larutan pertama menjadi -1, setelah homogen, masukkan 1 ml ke tabung kedua yang berisi aquadest dan masing-masing 1 ml ke 3 tabung yang berisi LB. Begitu seterusnya hingga tabung ke 3.


Foto003,Foto004,Foto005,Foto006,Foto007,Foto008,Foto010
 




























Foto023



Foto2577
 

























F.     Hasil Pengamatan


Foto2577
 






                        Semua tabung positif
                        Setelah 1 x 24 jam

G.    Pembahasan
            Jumlah tabung yang digunakan pada metode ini adalah sebanyak 12 tabung reaksi, 3 tabung reaksi untuk pengenceran, 9 tabung lainnya akan disimpan untuk pengamatan selanjutnya. Ke 9 tabung tersebut diisi tabung durham terlebih dahulu kemudian baru diisi dengan Laktosa Broth (LB) sebanyak 9 ml untuk masing tabung. Sedangkan 3 tabung pengenceran hanya diisi dengan aquades sebanyak 9 ml untuk masinng-masing tabung.
            Sampel yang digunakan pada metode ini adalah susu putih instant. Hanya diambil 1 ml yang kemudian dimasukkan ke tabung pengenceran pertama yang berisi aquadest 9 ml, kemudian dikocok atau di vortex, hingga homogen.
            Setelah homogen larutan akan menjadi pengenceran -1, yang selanjutnya di ambil 1 ml dan di pindahkan ke tabung pengenceran kedua dengan bantuan dispo, kemudian masing-masing 1 ml ke tiga tabung yang berisi LB dan tabung durham dengan menggunakan dispo yang sama. Perlakuan yang sama dilakukan pada tabung pengenceran yang kedua yaitu di vortex atau dikocok hingga homogen maka akan terbentuk pengenceran -2. setelah itu diambil 1 ml dan di pindahkan ke tabung pengenceran yang ke tiga dengan menggunakan dispo yang baru. Tidak dianjurkan untuk menggunakan dispo yang sebelumnya sudah digunakan, hal ini bertujuan agar tidak terjadi kontaminasi antara tabung pengenceran yang satu dengan yang lain, sehingga bakteri tidak akan menjadi semakin banyak. Kemudian di ambil lagi 1 ml untuk 3 tabung selanjutnya yang berisi LB dan tabung durham, sehingga total sudah 6 tabung yang berisi LB dan tabung durham yang telah di masukkan sampel hasil pengenceran. Untuk tabung pengenceran yang ketiga diberi perlakuan yang sama seperti tabung pengenceran 1 dan 2.
            Setelah ke 9 tabung terisi, 3 tabung hasil pengenceran bisa di buang, karena tidak digunakan lagi. Lalu di inkubasi dengan suhu 22-37ºC hingga 2 x 24 jam.
            Setelah proses inkubasi, selanjutnya diamati tabung yang positif. Ciri-ciri tabung yang positif adalah sebagai berikut :
1.      Terjadi perubahan warna Laktosa Broth (LB) dari warna hijau menjadi orange.
2.      Adanya Gas pada tabung durham hingga 10 %.
Dan berdasarkan hasil pengamatan dari ke 9 tabung, semuanya
positif. Karena beberapa di antaranya telah beubah warna menjadi orange, dan yang lainnya terdapat gas pada tabung durham lebih dari 10 %.
Sehingga di dapatkan kombinasi MPN 3-3-3 dengan nilai 24.
            Untuk mencari atau menghitung nilai MPN digunakan rumus :

MPN Sampel = Nilai MPN Tabel x                            1
                                                            Faktor pengenceran di tengah

            MPN Sampel   = 24 x   1
                                                1/100
                                    = 2400 cell/ml
                                    = 2,4 x 103 cell/ml




H.    Kesimpulan
            Jadi dengan menggunakan metode most probable number (MPN) kita dapat mengetahui jumlah bakteri coliform pada susu. MPN merupakan salah satu dari tiga uji. Yaitu uji penduga, uji penguat, dan uji lengap. Untuk MPN merupakan uji penduga.dan di duga terdapat 2400 cell ml bakteri coliform pada susu putih instant.

I.       Jawaban dari Tugas
Kelebihan dan kekurangan metode Most probable Number (MPN)
Kelebihan
1.      Cukup mudah untuk dilakukan
2.      Dapat menentukan jumlah spesifik mikrobia tertentu dengan menggunakan media yang sesuai.
3.      Metode ini dipilih untuk menetukan densitas bakteri coliform fekal
Kekurangan
1.      Membutuhkan alat gelas dalam jumlah yang banyak.
2.       Tidak dapat digunakan dalam pengamatan morfologi dari suatu  mikroorganism hanya dapat menggunakan sedikit sampel air tidak dapat di lakukan di lapangan pengambilan sampel .












Bagan langkah-langkah pengujian sampel dengan menggunakan metode MPN
5 ml aquades+0,5 ml sampel (telur)


1.           0,5ml                                        0,5 ml                              0,5 ml
2.                                 4,5 ml                       4,5 ml                       4,5 ml
3.     


 

                     1 ml                              1 ml                          1 ml
























































 




               10-1                              10-2                              10-3















Praktikum  7

A. Judul
Uji penguat bakteri E. Coli pada air dengan metode Most Probable Number (MPN)
B.  Tujuan
Untuk mengetahui Bakteri E. Coli pada sampel air dengan menggunakan uji penguat metode most probable number (MPN)
C.    Dasar teori
            Pada metode MPN ini digunakan medium cair didalam tabung reaksi, dimana perhitungann dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tetentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas didalam tabung durham untuk mikroba pembentuk gas. Untuk setiap pengenceran pada umumnya digunakan 3 atau 5 seri tabung. Lebih banyak tabung yang digunakan menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi tetapi alat gelas yang digunakan juga lebih banyak.
            Cara melihat jumlah bakteri dapat ditentukan dengan rumus sbb :
Jumlah bakteri = Nilai MPN ( dari table ) x 1/pengenceran tabung yang ditengah.
            Metode MPN biasanya digunakan untuk menghitung jumlah jasad renik didalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat digunakan untuk contoh berbentuk padat dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari sampel. Grup mikroba yang dapat dihitung dengan metode MPN juga bervariasi tergantung dari medium yang digunakan untuk pertumbuhan. Dalam metode MPN, dari setiap pengenceran dimasukkan 1 ml masing-masing ke dalam tabung yang berisi medium, dimana untuk setiap pengenceran digunakan tiga seri tabung. Setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu dilakukan penghitungan jumlah tabung yang positif (ditandai dengan timbulnya kekeruhan).
            Misalnya pada pengenceran pertama ketiga tabung menghasilkan pertumbuhan positif, pada pengenceran dua tabung positif, pada pengenceran ketiga satu tabung positif dan pada pengenceran terakhir tidak ada tabung positif. Kombinasinya menjadi 3, 2, 1, 0 dan jika diambil dari tiga pengenceran pertama kombinasinya akan menjadi 3, 2, 1.
D.    Alat dan Bahan









Rectangular Callout:


Cloud Callout: Cawan petri







Foto2578
 










           
Cloud Callout: EMBA (Eosyne Methylene Blue Agar) 










E.     Metode Kerja


Foto2583,Cloud Callout: Mengambil Sampel pada uji penduga yang positif,Foto2585,Foto2586,Foto2587,Cloud Callout: Meingkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Apabila koloni bakteri berwarna hijau metalik dinyatakan positif E.coli

,Foto2603
 






























F.     Hasil Pengamatan


Foto2578
 








                        Tidak ada perubahan warna menjadi hijau metalik
                                    Dinyatakan negatif E.coli

G.    Pembahasan
            Setelah melakukan uji penduga pada praktikum sebelumnya, maka pada praktikum ini kita akan mlanjutkan ke uji penguat. Pada uji penduga sebelumnya di duga ada 2400 cell/ml bakteri coliform E.coli, kita akan menguatkan pendapat tersebut dengan praktikum ini.
            Langkah awal kita lakukan adalah menyiapkan semua alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan. Kemudian mensterilkan jarum ose terlebih dahulu, denga cara melewati jarum ose di atas api bunsen, tujuan sterilisasi ini yaitu untuk membunuh mikroba yang melekat pada jarum ose, sehingga tidak akan tercampur dengan mikroba pada sampel.
            Selanjutnya mengambil sampel pada uji penduga yang positif, di ambil yang positif karena diduga yang positif mengandung bakteri koliform, lalu menggoreskan pada EMBA secara zig-zag atau dengan goresan sinambung secara perlahan agar media tidak sobek.
            Lalu diinkubasi selama 24 jam atau 1 hari untuk bakteri dapat berkembang biak pada suhu 37ºC . Keesokanya diamati apakah terjadi perubahan warna pada goresan menjadi hijau metalik, yang menandakan adanya bakteri E.coli. Namun untuk media yang kami buat tidak terdapat perubahan warna pada goresan, hal ini menandakan bahwa negatif E.coli pada EMBA. Maka uji penduga sebelumnya dianggap gugur, karena data tidak valid, telah dikuatkan pada uji penguat bahwa tidak adanya E.coli pada media EMBA.

H.    Kesimpulan
            Jadi pada susu putih instant tidak terdapat E. Coli, data pada uji penduga dianggap tidak sah, karena pada uji penguat telah didapatkan data negatif E.coli pada susu putih instant tersebut.

I.       Jawaban Tugas
1.       Kelebihan dan kekurangan metode Most probable Number (MPN)
-          Kelebihan
1.      Cukup mudah untuk dilakukan
2.      Dapat menentukan jumlah spesifik mikrobia tertentu dengan menggunakan media yang sesuai
3.      Metode ini dipilih untuk menetukan densitas bakteri coliform fekal
-          Kekurangan
                                    1.            Membutuhkan alat gelas dalam jumlah yang banyak.
                                    2.      Tidak dapat digunakan dalam pengamatan morfologi dari suatu mikroorganisme.
                                    3.      Hanya dapat menggunakan sedikit sampel air
                                    4.      Tidak dapat di lakukan di lapangan pengambilan sampel








2.      bagan langkah-langkah pengujian sampel dengan menggunakan metode MPN

                  Positif (+)                           Positif (+)                 Positif (+)
































































 





                        10-1                                        10-2                                        10-3
                                  Diinokulasi                      Diinokulasi                 Diinokulasi








Can: EMBA

Can: EMBA
Can: EMBA

 




                         10-1                                            10-2                                        10-3














Praktikum 8

A.    Judul
Sensivitas bakteri (resistensi tes)
B.     Tujuan
Untuk menentukan sensivitas tidaknya suatu bakteri terhadap berbagai macam zat antimikroba
C.    Dasar teori
Antibiotik merupakan suatu senyawa kimia sebagian besar dihasilkan oleh mikroorganisme,karakkteristiknya tidak seperti enzim,dan merupakan hasil dari metabolisme sekunder. Penggunaan antibiotik yang berlebihan pada tubuh manusia dapat menyebabkan resistensi sel mikroba terhadap antibiotik yang digunakan. Resistensi sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya sel mikroba oleh antibiotik
Sejumlah isolat Vibrio berpendapat yang diisolasi dari hatcheri udang windu di Jawa Timur ternyata resisten terhadap berbagai macam anti biotik seperti spektinnomisin, amoksisilin, kloramfenikol, erittromsin, kanamisin, tetrasiklin, ampisilin, streptomisin, rifampisin. Sementara dilain pihak antiboitik bersifat persisten didalam dan bahkan menjadi bumerang tehadap ekspor udang di Indonesia.
Antibiotik merupakan suatu senyawa kimia yang sebagian besar dihasilkan oleh mikroorganisme, karakteristiknya tidak seperti enzim, dan merupakan hasil dari metabolisme sekunder. Penggunaan antibiotik yang berlebih pada tubuh manusia dapat menyebabkan resistensi sel mikroba terhadap antibiotik yang digunakan. Resistensi sel mikroba adalah suatu sifat tidak terganggunya sel mikroba oleh antibiotik (Gan., 1987 dalam Putraatmaja, 1997).
      Mekanisme resistensi mikroba terhadap obat-obatan:
·         Mikroorganisme menhasilkan enzim yang merusak obat aktif
Contonya: stafilococus yang resiten terhadap penisilin G yang
menghasilkan betalaktamase merusak obat tersebut.
·            Mikroorganisme mengubah permeabilitas obat tersebut
            Contoh: tetrasiklin tertimbun pada bakteri yang peka.
·         Mikroorganisme mengembangkan sasaran struktur yang di ubah terhadap obat.
·         Mikroorganisme mengembangkan jalur metabolisme lain yang memintas reaksi yandg dihambat oleh obat.
                  Mekanisme kerja anti mikroba:
·      Mengahmbat metabolisme sel mikroba
            Contoh: sulfonamit,perimetoprim,
·      Menghambat sintesis dinding sel mikroba
     Contoh: penisilin,sefalosvorin,fancomisin.
·      Mengganggu keutuhan membran sel mikroba
     Contoh: polimiksin
·      Menghambat sintesis sel mikroba
     Contoh: aminoglikosid,makrolid
·      Menghambat sintesis asam nukleat mikroba
Contoh: rifampisin,asam nalidiksat. Meminimumkan resitensi obat:
Ø  Penggunaan antibiotika yang tepat
Ø  Dosis yang diberikan harus tepat
Ø  Pemakaian kombinasi dua obat atau lebih secara  bersamaan
Ø  Waktu pemberian yang tepat
       Pencegahan resistensi:
Ø  Penggunaan AM hanya sesuai indikasi dan dosis yang tepat,jangka waktu cukup.
Ø  Pembatsan penggunaan AM spektrum luas
Ø  Penggunaan antimikroba di rumah sakait pada waktu tertentu sebaikmnua dibatsi pada jenis-jenis antimikroba tertentu
Ø  Aplikasis penggunaan antimikroba, khususnya dibidang peternakan perlu dibatasi
D.    Foto015Cloud Callout: Cawan petriAlat dan Bahan















Rectangular Callout:


Cloud Callout: Gelas Ukur



Rounded Rectangular Callout:


Cloud Callout: Pinset




Cloud Callout: Nutrient Agar



Rounded Rectangular Callout:










Rounded Rectangle:

 
















Cloud Callout: Bahan Uji (perasan pandan)    


E.     Metode Kerja
1.      Menginokulasi jenis bakteri yang diuji kedalam cawan petri yang berisi media NA cair yang bersuhu  derajat celcius lalu meratakan agar suspensi tercampur rata dengan media.


Foto2591
 







2.      Mengambil kertas cakram dengan pinset, kemudian mencelupkan pada bahan uji yang telah disediakan


Foto2594
 







3.      Meletakkan kertas cakram yang telah direndam tadi pada lempeng agar sebanyak 3 buah dan memperhatikan jarak antara cakram harus  cukup jauh.


Foto2595,Foto2597,Foto2598
 












4.      Melakukan inkubasi selama 24-28 jam dengan suhu 37 derajat celcius.
Foto2603 








5.      Mengamati pertumbuhan koloni pada lempeng agar, dengan mengukur diameter bagian yang tidak ditumbuhi koloni bakteri disekitar kertas cakram.
6.      Menentukan apakah jenis bakteri tersebut  peka atau resisten

F.       Hasil Pengamatan




Jarak antara cakram dengan bakteri 0,4 cm = 4 mm


G.      Pembahasan
Pada percobaan ini kami menguji sensivitas bakteri dengan perasan pandan,kertas cakram dicelupkan ke dalam perasan pandan, kemudian diambil dengan pinset dan diletakkan pada lempeng agar sebanyak 3 buah. Jarak antar cakram harus cukup jauh agar dapat terlihat zona hambatan disekeliling cakram.Setelah itu diinkubasi selama 24-48 jam dengan suhu 370 C.
Diamati pertumbuhan koloni pada lempeng agar, dengan mengukur diameter bagian yang tidak ditumbuhi koloni bakteri disekitar kertas cakram. Hambatan akan terlihat sebagai daerah yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri disekitar cakram. Apabila jarak antara cakram dengan bakteri 14 mm atau lebih, maka dapat dinyatakan bahwa bakteri peka terhadap suspensi sehingga bisa dikatakan bahwa suspensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi apabila jarak antar cakram dengan koloni bakteri-bakteri 11 mm atau kurang maka dapat dinyatakan bahwa bakteri resisten terhadap suspensi atau dengan kata lain suspensi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

H.      Kesimpulan
Jarak antara cakram dengan bakter adalah 4 mm yang kurang dari 14 mm,sehingga perasan pandan resisten atau tidak peka terhadap bakteri
I.         Jawaban Pertanyaan
1.      Sensivitas bakteri adalah kepekaan bakteri terhadap berbegai zat anti mikroba. Zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (microbiostatic).
2.      Ketentuan dalam pengujian sensivitas bakteri menurut Norell adalah
a.       Dipergunakan 5 lembar kertas saring yang dicelupkan pada suspensi lalu diletakkan pada lempeng agar yang mengandung biakan bakteri.
b.      Setelah itu dilakukan inkubasi selama 16-18 jam padcakram ini suhu 37 0 C, maka akan terlihat zona hambatan (zones of inhibition) di sekeliling cakram dimana  cakram ini adalah kertas saring yang telah dicelupkan pada suspensi.
c.       Uji daya hambat biasanya dilakukan dengan petri berukuran 100 mm dan tidak lebih dari 5-6 disk anti bakteri pada setiap cawan petri. Memberi jarak yang benar pada disk adalah sangat penting untuk mencegah zona hambat yang tumpang tindih.
d.      Hambatan akan terlihat sebagai daerah yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri disekitar cakram. Apabila jarak antara cakram dengan bakteri 14 mm atau lebih, maka dapat dinyatakan bahwa bakteri peka terhadap suspensi sehingga bisa dikatakan bahwa suspensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi apabila jarak antar cakram dengan koloni bakteri-bakteri 11 mm atau kurang maka dapat dinyatakan bahwa bakteri resisten terhadap suspensi atau dengan kata lain suspensi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri.











PRAKTIKUM  9
A.    Judul Praktikum
Pembuatan sediaan mikroskopik
B.     Tujuan praktikum
Mempelajari cara menyiapkan sediaan mikroskopik dengan baik, sehingga prasyarat untuk berbagai pewarnaan
C.    Dasar Teori
Pada saat kita mendapatkan tugas untuk mencari tahu jenis suatu isolat bakteri, maka hal pertama yang dilakukan adalah mengamati ciri-ciri morfologi koloni, morfologi sel dan sifat gramnya.
Sebelum melakukan semua ini disarankan untuk menganggap isolat  sebagai hewan peliharaan kalau perlu cawan dielus-elus- dan juga mencintai kegiatan identifikasi ini. Jadi kebingungan yang akan ditemui di jalan tidak akan menghambat rasa penasaran Anda.
Pastikan isolat yang akan diuji adalah kultur murni, benar-benar murni dan telah yakin tentang kemurniannya. Jadi jika diperoleh suatu kultur murni dari suatu lingkungan dan diyakini belum murni maka haruslah diisolasi ulang, maksudnya dimurnikan lagi sampai benar-benar pasti.
Sebelum dilakukan pewarnaan dibuat ulasan bakteri di atas object glass yang kemudian difiksasi. Jangan menggunakan suspensi bakteri yang terlalu padat, tapi jika suspensi bakteri terlalu encer, maka akan diperoleh kesulitan saat mencari bakteri dengan mikroskop. Fiksasi bertujuan untuk mematikan bakteri dan melekatkan sel bakteri pada object glass tanpa merusak struktur selnya.
D.  Oval Callout: Kaca obyekAlat dan Bahan







Oval Callout: Kapas


Oval Callout: Pipet tetes


Oval Callout: Alkohol
 









E.  Metode Kerja
1.      Membersihkan objek gelas hingga bebas lemak dengan kapas beralkohol



2.      Meneteskan satu tetes aquades dengan menggunakan pipet tetes pada objek gelas tersebut



3.      Memijarkan jarum inokulasi dan mendinginkan



4.      Mengambil biakan bakteri dengan jarum inokulasi tersebut, kemudian mencampurkan dengan tetesan  aquades  pada objek gelas, sebarkan suspense tersebut sehingga menjadi sediaan yang tipis dalam bentuk lingkaran kira-kira sebesar uang logam 25 rupiah









5.      Mengeringkan sediaan tersebut diudara



6.      Merekatkan sediaan teersebut dengan melewatkan objek gelas bagin bawahnya diatas api sebanyak tiga kali, cara ini disebut “fiksasi panas” ada juga sediaan yang difiksasi dengan motil alcohol atau bahan kimia lain.


7.      Menggunakan sediaan mikroskopik diatas untuk proses pewarnaan sebelumnya.
F.   IMG0724AHasil Pengamatan



Sediaan mikroskopik ini akan digunakan pada proses pewarnaan gram

G.  Pembahasan
Pada percobaan ini kami membuat sediaan mikroskopik dengan sampel biakkan bakteri muda dimana bakteri muda itu diambil dari bakteri pour plate. Cara pembuatan dilakukan denga metode fiksasi panas, fiksasi panas adalah proses menyentuhkan permukaan kacca objek tiga kali berturut-turut pada ujung api bunsen. Bertujuan untuk mematikan bakteri dengan cepat agar sifat-sifatnya tidak banyak berubah.
Untuk praktikum ini langkah awal yang dilakukan adalah membersihkan kaca objek dengan tisu beralkohol hingga bebas lemak. Kemudian meneteskan 1 tetes aquadest steril di atas kaca objek dengan menggunakan dispo. Sementara itu jarum inokulasi dipijarkan pada bunsen yang kemudian didinginkan ,setelah itu diambil biakkan bakteri dengan jarum inokulasi, dan dipastikan jarum inokulasi tersebut dapat mengambil biakan bakteri, kemudin diletakkan pada kaca objek yang telah ditetesi aquades dan disuspensikan sampai merata. Lalu suspensi tersebut disebarkan hingga menjadi sedian yang tipis dengan bentuk lingkaran kira-kira sebesar uang logam 25 rupiah. Selanjutnya dikeringkan sedian tersebut, maka hal ini disebut dengan sedian mikroskopik kemudian sedian tersebut difiksasi dan siap untuk diwarnai tujuan dari fikasasi ini untuk mempermudah perlekatan antara kaca objek dan penutup objek mekanismenya adalah sisa air akan di lewatkan diatas bunsen sehingga air tersebut akan mengering dan akan mempermudah dalam penagamatan bakteri tersebut.
H.  Kesimpulan
Jadi dari percobaan ini kami telah membuat sediaan mikroskopik yang baik  yang akan digunakan pada percobaan berikutnya yaitu proses pewarnaan gram.

I.     Jawaban Pertanyaan
1.      Yang dimaksud dengan fiksasi panas adalah proses menyentuhkan permukaan kacca objek tiga kali berturut-turut pada ujung api bunsen. Bertujuan untuk mematikan bakteri dengan cepat agar sifat-sifatnya tidak banyak berubah.
























PRAKTIKUM 10
A.     Judul praktikum
Pewarnaan gram
B.     Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui perbedaan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif
C.     Dasar teori
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna safranin atau air fuchsin.
Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Bakteri yang terwarnai dengan metode ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya.
Pengecatan gram digunakan sebagai pengecatan diferensial, membedakan antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. pengecatan gram ini biasa digunakan dalam mikrobiologi.



D.  Oval Callout: mikroskopAlat dan Bahan
Foto536
Oval Callout: Alcohol 95 %                                   




Oval Callout: Lugol
 

           
                                               
Oval Callout: Safranin                                                                                   

                              


Oval Callout: Kertas saring
                                          


Oval Callout: Kristal ungu



      




Oval Callout: Kaca obyek











E.  Metode Kerja
1.       Meneteskan sediaan dengan 1 tetes aquadest, kemudian di lewatkan pada api
IMG0724A






Gambar 1

2.       Meneteskan sediaan dengan 2-3 tetes ungu violet, larutan zat warna Harus menutupi seluruh permukaan sediaan membiarkan selama 1 menit
IMG0719A






Gambar 2
3.         Membilas sediaan dengan air kemudian mengeringkan diudara atau dengan menggunakan kertas isap.Menetesi laruttan lugol (mordan ) dan membiarkan seama 2 menit, menyucinya dengan air dan mengeringkan.
IMG0723A





                                                            Gambar 3
4.      IMG0721AKemudian mencuci dengan larutan peluntur ( etanol 95%) selama 30 detik





Gambar 4
5.     Memberi larutan cat menutup ( safranin ) selama 2 menit, mencuci dengan air lalu mengeringkannya diudara
IMG0726A






                                                          Gambar 5                                            
Foto5366. Mengamati sediaan dibawah mikroskop dengan menggunakan lensa objektif dengan perbesaran besar yang terlebih dahulu sediaan menetesi minyak imersi







Gambar 6
     
6.    Hasil Pengamatan



Pada percobaan ini diperoleh hasil pengamatan pada mikroskop bahwa warna yang tertinggal pada lingkaran yang berbentuk koin 25 rupiah dalam kaca obyek adalah warna ungu dari larutan Kristal ungu yang ditetesi pertama, dan pada pinggirannya berwarna merah. Tetapi sebagian besar menghasilkan warna ungu.

7.    Pembahasan
Pengecatan gram digunakan sebagai pengecatan diferensial, membedakan antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. pengecatan gram ini biasa digunakan dalam mikrobiologi.
Bakteri Gram positif
Kuman Gram positif dibedakan menjadi dua kelompok, yakni kuman aerob dan kuman anaerob. Kuman Gram positif aerob: meliputi kuman-kuman koken (streptokokus, stafilokokus), basilus (saprofit), spiral (treponema dan leptospira), batang (korinebakteria) dan lain-lain. Jadi secara sederhana kuman-kuman yang sering dihadapi dalam praktek dari golongan ini misalnya kuman stafilokokus, streptokokus. Untuk kuman-kuman Gram positif aerob ini, antibiotika pilihan utama adalah penisilin spektrum sempit (asalkan tidak ada resistensi karena produksi enzim penilisinase). Penisilin spektrum luas, eritromisin, sefalosporin, mempunyai aktifitas antikuman terhadap golongan Gram positif aerob, tetapi tidak sekuat penisilin spektrum sempit di atas. Contoh yang gampang adalah infeksi saluran nafas oleh streptokokus maupun infeksi-infeksi piogenik dengan pernanahan.
Kuman Gram positif anaerob: yang paling penting di sini kemungkinan adalah kuman-kuman batang positif, yakni klostridia, misalnya C. tetani, C. botulinum, C. gas gangren dan lain-lain. Untuk kuman-kuman ini penisilin dengan spektrum sempit tetap merupakan obat pilihan utama, juga metronidazol.





Bakteri gram-positif antraks (batang ungu) pada contoh cairan serebrospina.
    Bakteri Gram negative
Kuman gram negatif juga terbagi menjadi kuman yang bersifat aerob dan anaerob. Gram negatif aerob: termasuk koken (N. gonorrhoeae, N. meningitidis atau pnemokokus), kuman-kuman enterik (E.coli, klebsiela dan enterobakter), salmonela, sigela, vibrio, pseudomonas, hemofilus dan lain-lain. Untuk kumankuman kelompok ini, pilihan antibiotik dapat berupa penisilin spektrum luas, tetrasiklin, kloramfenikol, sefalosporin dan lain-lain. Sebagai contoh, antibiotik pilihan untuk kuman vibrio adalah tetrasiklin, untuk salmonela adalah kloramfenikol, untuk hemofilus adalah kloramfenikol.
Gram negatif anaerob: yang termasuk di sini yang penting adalah golongan bakteroides dan fusobakterium. Linkomisin dan klindamisin, beberapa  Pembagian kuman penyebab infeksi ini sangat disederhanakan, oleh karena spektrum kuman penyebab infeksi pada masing-masing organ tubuh atau lokasi tubuh masih sangat bervariasi. Sehingga dalam prakteknya jenis infeksi, kuman spesifik penyebabnya harus dicari dan dipertimbangkan termasuk spektrum kepekaan kuman pada umumnya yang menentukan antibiotika pilihan untuk infeksi yang bersangkutan.
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, gram-positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae.
Dalam praktikum ini kami melakukan percobaan dengan menggunakan gelas objek yang ditetesi dengan beberapa larutan warna seperi larutan ungu-violet, larutan lugol, etanol, dan larutan penutupnya yaitu safranin.
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu membuat sediaan mikroskopik terlebih dahulu, kemudian di tetesi dengan 1 tetes aquadest, setelah itu di lewatkan pada api dan selanjutnya di tetesi dengan larutan ungu-violet, dibiarkan selama 1 menit, dan kemudian di cuci dengan air, lalu di tetesi dengan larutan lugol, dibiarkan selama 2 menit dan di cuci lagi dengan air, kemudian di tetesi lagi dengan etanol selama 30 detik, setelah itu di beberi lapisan penutup yaitu larutan safranin selama 2 menit, dan langkah yang terakhir yaitu diamati di bawah mikroskop dengan menggunakan lensa objektif untuk melihat apakah yang diamati adalah bakteri gram negative atau bakteri gram positif.




Bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa berbentuk batang berwarna pink.
     Dalam praktikum ini kami melakukan percobaan dengan menggunakan beberapa tetesan warna Yaitu larutan ungu violet, larutan lugol, etanol, dan larutan penutp yaitu larutan safranin
     Langkah –langkah yang di lakukan yaitu pada sediaan diiteteskan larutan ungu violet di biarkan selama 1 menit, setelah itu di cuci dengan menggunakan air, lalu ditetesi lagi dengan menggunakan larutan lugol dibiarkan selama 2 menit, setelah 2 menit di cuci lagi dengan air bersih, kemudian di tetesi dengan etanol selama 2 menit, langkah terakhir yaitu menetesi sediaan dengan menggunakan larutan penutup yaitu safranin selama 2 menit. Setelah semua perlakuan selesai, sediaan tersebut di amati pada mikroskop untuk melihat apakah bakteri tersebut tergolong bakteri gram positif atau gram negative.
8.    Kesimpulan
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah salah satu teknik pewarnaan yang paling penting dan luas yang digunakan untuk mengidentifikasi bakteri. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan yodium, larutan alkohol (bahan pemucat), dan zat pewarna tandingannya berupa zat warna safranin atau air fuchsin. Secara kasat mata dan dibuktikan oleh mikroskop bahwa warna yang dihasilkan adalah warna ungu, sehingga dinamakan gram positif, gram positif yaitu Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop

9.    Jawaban Pertanyaan
1.     Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup.
2.     Pengecatan dan pewarnaan merupakan salah satu cara untuk mengamati sel-sel bakteri. Untuk membedakan berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat digunakan pewarna sederhana. Istilah ”pewarna sederhana” dapat diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa). Sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. Sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer.



















Praktikum  11

A.  Judul
                              Pembiakan Jamur
B.  Tujuan
                              Mempelajari morfologi jamur pada media agar
C.  Dasar teori
Di  dalam  dunia mikrobia,  jamur  termasuk  divisio Mycota  (fungi). Mycota  berasal dari  kata  mykes  (bahasa  Yunani),  disebut  juga  fungi  (bahasa  Latin).  Ada  beberapa istilah  yang  dikenal  untuk  menyebut  jamur,  (a)  mushroom  yaitu  jamur  yang  dapat menghasilkan badan buah besar,  termasuk  jamur  yang dapat dimakan,  (b) mold  yaitu jamur yang berbentuk seperti benang-benang, dan (c) khamir yaitu jamur bersel satu.
Jamur  merupakan  jasad  eukariot,  yang  berbentuk  benang  atau  sel  tunggal, multiseluler  atau  uniseluler.  Sel-sel  jamur  tidak  berklorofil,  dinding  sel  tersusun  dari khitin,  dan  belum  ada  diferensiasi  jaringan.  Jamur  bersifat  khemoorganoheterotrof karena memperoleh energi dari oksidasi senyawa organik. Jamur memerlukan oksigen untuk hidupnya (bersifat aerobik).
Habitat (tempat hidup) jamur terdapat pada air dan tanah. Cara hidupnya bebas atau  bersimbiosis,  tumbuh  sebagai  saprofit  atau  parasit  pada  tanaman,  hewan  dan manusia.

A. Morfologi Jamur Benang
Jamur  benang  terdiri  atas massa  benang  yang  bercabang-cabang  yang  disebut miselium.  Miselium  tersusun  dari  hifa  (filamen)  yang  merupakan  benang-benang tunggal.  Badan  vegetatif  jamur  yang  tersusun  dari  filamen-filamen  disebut  thallus.
Berdasarkan  fungsinya  dibedakan  dua macam  hifa,  yaitu  hifa  fertil  dan  hifa  vegetatif. Hifa  fertil  adalah  hifa  yang  dapat  membentuk  sel-sel  reproduksi  atau  spora-spora. Apabila  hifa  tersebut  arah  pertumbuhannya  keluar  dari media  disebut hifa  udara. Hifa vegetatif adalah hifa yang berfungsi untuk menyerap makanan dari substrat.
Berdasarkan bentuknya dibedakan pula menjadi dua macam hifa, yaitu hifa tidak bersepta  dan  hifa  bersepta.  Hifa  yang  tidak  bersepta  merupakan  ciri  jamur  yang termasuk  Phycomycetes  (Jamur  tingkat  rendah).  Hifa  ini  merupakan  sel  yang memanjang, bercabang-cabang, terdiri atas sitoplasma dengan banyak  inti (soenositik).
Hifa  yang  bersepta  merupakan  ciri  dari  jamur  tingkat  tinggi,  atau  yang  termasuk Eumycetes.
 
B. Perkembangbiakan jamur
Jamur  dapat  berkembang  biak  secara  vegetatif  (aseksual)  dan  generatif (seksual). Perkembang biakan aseksual dapat dilakukan dengan  fragmentasi miselium (thalus)  dan  pembentukan  spora  aseksual.  Ada  4  cara  perkembang  biakan  dengan fragmentasi  thalus  yaitu,  (a)  dengan  pembentukan  tunas,  misalnya  pada  khamir,  (b) dengan  blastospora,  yaitu  tunas  yang  tumbuh menjadi  spora, misalnya  pada Candida sp., (c) dengan arthrospora (oidium), yaitu terjadinya segmentasi pada ujung-ujung hifa, kemudian  sel-sel  membulat  dan  akhirnya  lepas  menjadi  spora,  misalnya  pada Geotrichum  sp.,  dan  (d)  dengan  chlamydospora,  yaitu  pembulatan  dan  penebalan dinding sel pada hifa vegetatif, misalnya pada Geotrichum sp.
Spora  aseksual  terbentuk melalui  2  cara.  Pada  jamur  tingkat  rendah,  spora  aseksual  terbentuk sebagai hasil pembelahan  inti berulang-ulang. Misalnya spora yang terbentuk  di  dalam  sporangium. Spora  ini  disebut  sporangiospora. Pada  jamur  tingkat tinggi,  terbentuk  spora  yang  disebut  konidia.  Konidi  terbentuk  pada  ujung  konidiofor, terbentuk dari ujung hifa atau dari konidi yang telah terbentuk sebelumnya.
Perkembang  biakan  secara  seksual,  dilakukan  dengan  pembentukan  spora seksual dan peleburan gamet (sel seksual). Ada dua tipe kelamin (mating type) dari sel seksual,  yaitu  tipe  kelamin  +  (jantan)  dan  tipe  kelamin    (betina).  Peleburan  gamet terjadi  antara  2  tipe  kelamin  yang  berbeda.  Proses  reproduksi  secara  seksual  dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu: (a) plasmogami yaitu meleburnya 2 plasma sel, (b) kariogami yaitu meleburnya 2 inti haploid yang menghasilkan satu inti diploid, dan (c) meiosis yaitu pembelahan reduksi yang menghasilkan inti haploid.
Bentuk  dan  cara  reproduksi  jamur  sangat  beraneka  ragam,  dan
dapat digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan jamur tersebut.

C. Klasifikasi jamur
Ada  beberapa  klasis  jamur,  yaitu  Acrasiomycetes  (Jamur  lendir  selular), Myxomycetes  (Jamur  lendir  sejati),  Phycomycetes  (Jamur  tingkat  rendah),  dan Eumycetes  (Jamur  tingkat  tinggi).  Eumycetes  terdiri  atas  3  klasis  yaitu  Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes (Fungi imperfecti).
Sistem  tata  nama  jamur  menggunakan  nama  binomial,  yang  terdiri  nama genus  dan  nama  spesifik  /  spesies. Nama  famili  dengan  akhiran  –aceae,  nama  order dengan akhiran –ales, dan nama klasis dengan akhiran –mycetes.

1. ACRASIOMYCETES
Jamur  ini merupakan kelompok  jamur  lendir selular, yang hidup bebas di dalam tanah, biasanya diisolasi dari  tanah humus. Bentuk vegetatifnya berupa sel berinti satu yang  amoeboid,  seperti  protozoa  uniselular  atau  merupakan  amoeba  haploid,  dan disebut juga pseudoplasmodium.
Ciri-ciri  sel  jamur  ini adalah dapat bergerak diatas media padat  (pseudopodia), makan dengan cara fagositosis, misalnya dengan memakan bakteri. Sifatnya yang mirip fungi  adalah  adanya  stadium  badan  buah,  dan  terbentuknya  spora.  Struktur  spora seperti bentuk kista dari amoeba.
Perkembang biakan jamur ini dimulai dari berkecambahnya spora, kemudian sel memperbanyak diri membentuk pseudoplasmodium, selanjutnya sel-sel beragregasi dan akan membentuk badan buah, akhirnya  terbentuk sporokarp yang menghasilkan spora kembali. Contoh jamur ini adalah Dictyostelium mucoroides dan D. discoideum.

2. MYXOMYCETES
Jamur ini merupakan jamur lendir sejati. Jamur ini dapat ditemukan pada kayu terombak, guguran daun, kulit kayu, dan kayu. Bentuk vegetatifnya disebut plasmodium. Plasmodium merupakan masa sitoplasma berinti banyak dan tidak  dibatasi oleh dinding sel  yang  kuat. Sel-selnya mempunyai gerakan amoeboid diatas  substrat. Cara makan dengan  fagositosis.  Apabila  plasmodium  merayap  ke  tempat  yang  kering,  akan terbentuk badan buah. Badan buah menghasilkan  spora berinti  satu  yang diselubungi dinding sel. Spora berasal dari inti-inti plasmodium.
Struktur pada semua stadium sama, yaitu seperti sel soenositik dengan adanya aliran sitoplasma. Perkembang  biakan  jamur  ini  dimulai  dari  sel  vegetatif  haploid  hasil perkecambahan  spora.  Sel  tersebut  setelah  menggandakan  diri  akan  mengadakan plasmogami dan kariogami yang menghasilkan sel diploid. Sel diploid yang berkembang menjadi plasmodium yang selnya multinukleat tetapi uniselular, selanjutnya membentuk badan  buah  yang  berbentuk  sporangium.
Sporangium  tersebut  menghasilkan  spora haploid.  Contoh  jamur  ini  adalah  Lycogala  epidendron,  Cribraria  rufa  ,  dan  Fuligo septica.   

3. PHYCOMYCETES
Jamur  ini  termasuk  jamur  benang  yang  mempunyai  hifa  tidak  bersepta,  sel vegetatif  multinukleat,  atau  disebut  thalus  soenositik.  Secara  vegetatif  dapat memperbanyak diri dengan potongan-potongan hifa, dan menghasilkan spora aseksual dalam  sporangium  (sporangiospora).  Perkembang  biakan  secara  generatif  dengan membentuk  spora  seksual.  Berdasarkan  cara  terbentuknya  spora  dibagi  menjadi  2 macam,  (a) Oospora, hasil peleburan antara gamet-gamet  yang  tidak  sama besarnya, dan  (b)  Zygospora,  hasil  peleburan  gamet-gamet  yang  sama  besarnya. 
Berdasarkan tipe  sporanya  maka  jamur  ini  juga  dapat  dikelompokkan  dalam  Oomycetes  dan Zygomycetes.

ASCOMYCETES
Ciri  jamur  ini  mempunyai  hifa  bersepta,  dan  dapat  membentuk  konidiofor.
Secara  vegetatif  dapat  berkembang  biak  dengan  potongan  hifa,  dan  pada  beberapa jenis  dapat menghasilkan  konidia  secara  aseksual. Fase  konidi  jamur  ini  disebut  juga fase  imperfect. Fungi yang hanya dalam bentuk  fase  imperfect disebut  fungi  imperfecti (Deuteromycetes).  Secara  generatif  dapat  membentuk  badan  buah  yang  disebut askokarp,  yang  di  dalamnya  terdapat  askus  (kantong)  yang menghasilkan  askospora. Askospora merupakan hasil kariogami dan meiosis.
Pembentukan askospora ada 4 cara, yaitu:
1.  Konyugasi langsung seperti pada khamir.
2.  Pembelahan sel miselium.
3.  Peleburan sel-sel kelamin kemudian oogonium menjadi askus.
4.  Dari hife askogen timbul organ-organ tertentu yang mengandung inti rangkap.
Berdasarkan bentuknya dapat dibedakan 3 macam askus, yaitu: 
(a)  Cleistothecium,  bentuknya  bulat,  kasar  dan  tidak  mempunyai  lubang  khusus untuk jalan keluarnya spora.
(b)  Perithecium, bentuk bulat seperti  labu, mempunyai osteol untuk  jalan keluarnya spora.
(c)  Apothecium, bentuk seperti cawan atau mangkuk, bagian permukaan terdiri atas himenium  yang mengandung  askus-askus  dalam  lapisan  palisade,  dari  lapisan tersebut dapat dilepaskan askospora.
Contoh jamur ini yang penting adalah genus Aspergillus dan Penicillium. Jamur ini  umumnya  dapat  menghasilkan  pigmen  hitam,  coklat,  merah,  dan  hijau.  Pigmen tersebut  dapat  digunakan  untuk mengidentifikasi  jenis-jenis  jamur  tersebut.  Jamur  ini umumnya  dapat  merombak  bahan  organik  seperti  kayu,  buah,  kulit,  dan  sisa-sisa tanaman.  Spesies  seperti  P.  roqueforti  dan  P.  camemberti  dapat  digunakan  untuk flavour  (aroma).  Penicillium  notatum  dan  Penicillium  chrysogenum  untuk  produksi antibiotik  penisilin.  Jamur  Aspergillus  niger  untuk  fermentasi  asam  sitrat,  Aspergillus oryzae dan Aspergillus wentii untuk fermentasi kecap.

BASIODIOMYCETES
Ciri khusus  jamur  ini yaitu mempunyai basidium yang berbentuk seperti gada, tidak  bersekat,  dan  mengandung  4  basidiospora  di  ujungnya.  Pada  jamur  tertentu mempunyai  hymenium  atau  lapisan-lapisan  dalam  badan  buah.  Hymenium  terdapat pada mushroom, maka disebut juga Hymenomycetes.

DEUTEROMYCETES (FUNGI IMPERFECTI)
Semua  jamur  yang  tidak  mempunyai  bentuk  (fase)  seksual  dimasukkan  ke dalam  kelas  Deuteromycetes.  Jamur  ini  merupakan  bentuk  konidial  dari  klas Ascomycetes, dengan askus  tidak bertutup atau hilang  karena evolusi.  Jamur  ini  juga tidak lengkap secara seksual, atau disebut paraseksual. Proses plasmogami, kariogami dan meiosis ada  tetapi  tidak terjadi pada  lokasi  tertentu dari badan vegetatif, atau tidak terjadi  pada  fase  perkembangan  tertentu.  Miseliumnya  bersifat  homokariotik.  Contoh jamur ini adalah beberapa spesies Aspergillus, Penicillium, dan Monilia. 
IDENTIFIKASI JAMUR BENANG
Untuk  mengidentifikasi  jamur  benang  lebih  diutamakan  pengujian  sifat-sifat morfologinya,  tetapi  perlu  juga  pengujian  sifat-sifat  fisiologi.  Hal-hal  yang  perlu diperhatikan pada pengamatan morfologi jamur benang adalah:
1.  Tipe hifa, bersepta atau tidak, jernih atau keruh, dan berwarna atau tidak.
2.  Tipe  spora,  seksual  (oospora,  zygospora,  askospora,  atau  basidiospora), aseksual (sporangiospora, konidia, atau oidia)
3.  Tipe  badan  buah,  bentuk,  ukuran,  warna,  letak  spora  atau  konidi.  Bentuk sporangiofor / konidiofor, kolumela / vesikula.
4.  Bentukan  khusus,  misalnya  adanya  stolon,  rhizoid,  sel  kaki,  apofisa, klamidospora, sklerosia, dan lain-lain.

KHAMIR
Khamir  atau  disebut  yeast, merupakan  jamur  bersel  satu  yang mikroskopik, tidak  berflagela.  Beberapa  genera  membentuk  filamen  (pseudomiselium).  Cara hidupnya sebagai saprofit dan parasit. Hidup di dalam tanah atau debu di udara, tanah, daun-daun, nektar bunga, permukaan buah-buahan, di tubuh serangga, dan cairan yang mengandung gula seperti sirup, madu dan lain-lain.
Khamir  berbentuk  bulat  (speroid),  elips,  batang  atau  silindris,  seperti  buah jeruk,  sosis,  dan  lain-lain.  Bentuknya  yang  tetap  dapat  digunakan  untuk  identifikasi.
Khamir  dapat  dimasukkan  ke  dalam  klas  Ascomycetes,  Basidiomycetes  dan Deuteromycetes.
    
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi khamir adalah:
1.  Ada  tidaknya  askospora,  kalau  ada  bagaimana  pembentukannya  (konyugasi isogami,  heterogami,  atau  konyugasi  askospora),  bentuk,  warna,  ukuran,  dan  jumlah spora.
2.  Bentuk, warna, dan ukuran sel vegetatifnya.
3.  Cara reproduksi aseksual (bertunas, membelah, dsb)
4.  Ada tidaknya filamen atau pseudomiselium.
5.  Pertumbuhan dalam medium dan warna koloninya.
6.  Sifat-sifat  fisiologi,  misalnya  sumber  karbon  (C)  dan  nitrogen  (N),  kebutuhan vitamin,  bersifat  oksidatif  atau  fermentatif,  atau  keduanya,  lipolitik,  uji pembentukan asam, penggunaan pati, dan lain-lain.    

Oval Callout: Objek GelasD.  Alat dan Bahan















kca obyek


Oval Callout: Jarum inokulasi




Oval Callout: Mikroskop



Oval Callout: Inkubator



Oval Callout: Pipet Tetes



Foto2563



Oval Callout: Roti Berjamur






Foto536
















E.  Metode Kerja
Horizontal Scroll: Menyediakan lempeng media PDA sebanyak 2 buah untuk isolasi jamur dari udara dan roti berjamur. Untuk jamur dari udara membuka cawan PDA diatas meja selama 1 jam kemudian tutup kembali, untuk jamur dari Roti, menghaluskan roti terlebih dahulu kemudian menaburkan diatas PDA, kemudian menutupnya kembali.     


















PDA




Foto022

 

































Folded Corner: Mengamati dan mengidentifikasi setiap koloni jamur yang tumbuh dengan melihat warna koloni dan bentuknya di bawah mikroskop. Caranya yaitu dengan menggunakan objek gelas yang sudah dibersihkan meneteskan air terlebih dahulu kemudian mengambil sedikit koloni jamur dengan menggunakan jarun inokulasi, lalu letakkan di mikroskop untuk kemudian diamati.


Foto029
Foto030




 













Foto536

















F.   Hasil Pengamatan





Foto029
Foto030

 






          Jamur Udara                                    Jamur Roti








G.  Pembahasan
                  Langkah awal yang dilakukan setelah menyiapkan semu alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan yaitu menyediakan lempeng PDA sebanyak 2 buah untuk isolasi jamur dan udara dari roti berjamur.
                  Untuk jamur dari udara, membuka salah satu caean perti yang telah berisi PDA diatas meja selama 1 jam kemudian menutupnya kembali, hal ini bertujuan untuk mengumpulkan mikroba melalui udara, dibiarkan selama 1 jam agar mikroba yang dihasilkan banyak sehingga akan memudahkan untuk pembuatan sediaan mikroskopiknya.
                  Untuk cawan petri yang satunya akan dibuat biakan mikroba dari roti yang berjamur, kita menghaluskannya terlebih dahulu kemudian menaburkan diatas mikroba secara merata diatas PDA kemudian menutupnya kembali.
                  Selanjutnya adalah menginkubasi kedua cawan petri tersebut kedalam inkubator dengan suhu 22-33ºC selama 3 x 24 jam. Pada hari ketiga, yaitu setelah melewati 3 x 24 jam, kami mengamati setiap koloni jamur yang tumbuh dengan melihat warna koloni dan bentuknya dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan mikroskop.
                  Untuk mengamati melalui mikroskop kami membuat sediaan mikroskopiknya terlebih dahulu, yaitu dengan menggunakan objek gelas yang telah dioleskan dengan alkohol kemudian dikeringkan. Setelah itu meneteskan dengan aquades, cukup 1 tetes dilanjutkan dengan meletakkan biakan mikroba dari udara maupun roti lalu ditutup.
                  Setelah sediaan mikroskopiknya jadi, barulah bisa diamati dibawah mikroskop dan tampak mikroba (jamur) dari udara dan roti.

H.  Kesimpulan
                        Jadi pada hasil pengamatan yang diamati pada mikroskop menunjukkan bahwa Jamur pada roti termasuk golongan Zygomycota dan jamur pada udara termasuk golongan Ascomycota.

I.    Jawaban Tugas
1.  Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengamatan morfologi
                  Jamur :
1.  Ada  tidaknya  askospora,  kalau  ada  bagaimana  pembentukannya  (konyugasi isogami,  heterogami,  atau  konyugasi  askospora),  bentuk,  warna,  ukuran,  dan  jumlah spora.
2.  Bentuk, warna, dan ukuran sel vegetatifnya.
3.  Cara reproduksi aseksual (bertunas, membelah, dsb)
4.  Ada tidaknya filamen atau pseudomiselium.
5.  Pertumbuhan dalam medium dan warna koloninya.
6.  Sifat-sifat  fisiologi,  misalnya  sumber  karbon  (C)  dan  nitrogen  (N),  kebutuhan vitamin,  bersifat  oksidatif  atau  fermentatif,  atau  keduanya,  lipolitik,  uji pembentukan asam, penggunaan pati, dan lain-lain.    
  2. Actinomycetes merupakan salah satu prokariota yang bentuk mirip dengan fungi. Actinonomycetes awalnya dinamakan “ray fungi”. Actinomycetes tumbuh dalam bentuk filamen miselium dan membentuk spora. Ada dua hal penting untuk membedakan antara fungi dengan Actinomycetes, yakni: 1). Actinomycetes tidak mempunyai nukleus, sehingga dimasukkan prokariotik; 2) bentuk hifa Actinomycetes dengan diameter 0,5 – 1,0 mm, sehingga lebih kecil dari hifa jamur (3 – 8 mm diameternya)
Actinomycetes terdiri dari 10 – 50 % total populasi mikrobe dalam tanah.  Organisme ini ditemukan dalam tanah (hampir semua), kompos, dan sedimen. Kelimpahan populasi Actinomycetes di dalam tanah adalah terbesar kedua setelah bakteri, yakni rentang dari 500.000 – 100.000.000 propagul per gram tanah. Proppagul adalah bagian dari suatu mikroorganisme yang dapat tumbuh dan berkembangbiak
Actinomycetes diklasifikasikan berdasarkan komosisi kimiawi dinding sel, komposisi keseluruhan gula (untuk mendiagnostik kelompok Actinomycetes), hibridisasi ADN dan ARN (melihat kekerabatan diantara Actinomycetes yang memilik genotif serupa). Beberapa kelompok (genera) Actinomycetes adalah Micromonospora, Nocardia, Streptomyces, Streptosporangium, dan Thermoactinomycetes









DAFTAR PUSTAKA

Lay. B. W. 1994. Analisis Mikrobiologi da Laboraorium. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Team teaching, 2010. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Laboratorium mikrobiologi FMIPA Universitas Negeri Gorontalo
Pelczar, Michael J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta
Waluyo. 2005. Mikrobiologi Umum. UMPress. Malang
Wesley & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid I. Erlangga. Jakarta
Scoville’s : The Art of Compounding, Glenn L. Jenkins et.all., 1957, New York : MC-Graw Hill Book Companies.
Pharmaceutical Technology, Eugene L. Parrott, 1974, Minneapolis : Burgess Publishing Company.
Teori dan Praktek Farmasi Industri (terjemahan), Leon Lachmann et.all., 1998, jakarta : UI-Press.
Remington’s Pharmaceutical Sciences 18 th Edition, A.R. Gennaro, 1990, Pennsylvania :Mack Publishing Company.
Howard, C Ansel. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta; Universitas Indonesia
Entjang Indan, Dr. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. CV YRAM
A WIDYA, Bandung, Indonesia.
Irianto Koes, Drs. 2007. Mikrobiologi. CV YRAMA WIDYA, Bandung, Indonesia.
Anonim.Media. Tersedia di http://www.google.com ( 01 Meil 2010)
Anonim.Pembuatan media. Tersedia di http://www.google.com (01Mei 2010)
Parenteral Manual Technology, Michael J. groves, 1988, USA : Interpharm Press Inc.
Scoville’s : The Art of Compounding, Glenn L. Jenkins et.all., 1957, New York :MC-Graw Hill Book Companies.
Anonim.Pour plate. Tersedia di http://www.google.com ( 01 Meil 2010)
Anonim.uji kuantitatif bakteri dengan metode Pour plate. Tersedia di http://www.google.com (01Mei 2010)
Parenteral Manual Technology, Michael J. groves, 1988, USA : Interpharm Press Inc.
Remington’s Pharmaceutical Sciences 18 th Edition, A.R. Gennaro, 1990, Pennsylvania :Mack Publishing Company.
Validation of Pharmaceutical Processes (electronic version), James Agalloco,
2008, USA : Informa Healthcare Inc.
Anonim.Metode Most probable Number. Tersedia di http://www.google.com ( 01 Meil 2010)
Anonim.perhitungan bakteri colifirm. Tersedia di http://www.google.com (01Mei 2010)
Barnet, Margaret. 1997. Microbiology Laboratory Exercises. 2nd Edition. Wm. C. Brown Publisher. London. 
Paustian, T. 2006. Microbiology and Bacteriology; The World of Microbes.
Pratama, M. R. 2006. Mengenal Media Pertumbuhan Mikrobial.
Anonim.bakteri E.coli. Tersedia di http://www.google.com ( 01 Meil 2010)
Anonim.uji penguat bakteri. Tersedia di http://www.google.com (01Mei 2010)
Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek: Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Penn, C. 1991. Handling Laboratory Microorganism. Open University, Milton Keynes.
Sutton, Scott. 2006 Counting Colonies. http://www. microbiol.org/white.papers/ WP.count . colony.htm. diakses pada 2 Oktober 2009


Tidak ada komentar:

Posting Komentar